FOTO LOKASI STT SAPPI

Tampak Depan STT SAPPI

Lokasi STT SAPPI

Tampak Kebun Belakang STT SAPPI

LOKASI STT SAPPI

Hall Tempat Makan Bersama

Lokasi Bagian Belakang STT SAPPI

Lahan Kebun Pertanian

Lokasi Peternakan 20 STT SAPPI

Lokasi Ternak Kambing

Lokasi Rumah Jamur STT SAPPI

Lokasi Tempat Tanam Jamur

Selasa, 21 Maret 2017

Dosen SAPPI



Nama Dosen      : Sunarto
Pengajar bidang:  Pembimbing Teologi Sistematik,
                             Sejarah Gereja Umum, Homiletika,
                             PB Kisah Para Rasul, PB Surat-surat Paulus,
                             Metodologi penelitian








Nama Dosen      : Hadi P. Sahardjo
Pengajar bidang :  Eksegese,Liturgika,Oikumenika,Etika Kristen, PAK,
                              Keluarga Kristen, Teologi Sistematika ,
                              PB Kitab Wahyu, Psikologi Pendidikan,
                              Pastoral Konseling







Nama Dosen     : Nenny Natalina Simamora
Pengajar bidang: Filsafat Kristen, Injil Sinoptik, Etika Kristen,
                            PB Surat-surat Umum,









Nama Dosen        : Aeron Frior Sihombing
Pengajar bidang   :Filsafat Kristen, PB Injil Sinoptik, Etika Kristen,
                              PB Surat-surat Umum, Filsafat Kristen






Selasa, 29 Oktober 2013

Tes Psikologi Serta Tes Bakat dan Karunia

Tes psikologi untuk mahasiswa tingkat 1 dan 2 yang dikoordinir oleh
LPPM STT SAPPI telah diadakan pada Kamis, 7 Maret 2013. Tes piskologi
ini dilakukan oleh tim profesional dari Bandung. Dari hasil tes
psikologi tersebut diharapkan dapat diperoleh data profil kepribadian
dan psikologi mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan proses
pembelajaran dan pembentukan karakter hamba Tuhan selama mahasiswa
studi di STT SAPPI. Sedangkan tes bakat dan karunia untuk semua
mahasiswa dilakukan pada Jumat, 8 Maret 2013. Tes tersebut dilakukan
oleh Dr. Hadi P. Sahardjo, M.Th.

Kegiatan BLK

Kegiatan BLK dilakukan oleh mahasiswa Tingkat 1 s/d Tingkat 3. Pada
semester genap TA 2011/2012, ada 8 jenis kegiatan BLK, yaitu
Elektronika Praktis, Salon dan Tata Rias, Perikanan, Peternakan, Musik
Dasar, Budidaya Jamur Tiram, Teknologi Pengolahan Pangan, Budidaya
Tanaman Hortikultura, dan Pengembangan Media Pembelajaran. BLK
Pengembangan Media Pembelajaran merupakan bidang BLK yang baru, dengan
tujuan memperlengkapi mahasiswa dengan keterampilan untuk kreatif
dalam mengembangkan media pembelajaran, baik di gereja, di sekolah,
maupun di masyarakat.

POKOK DOA

1. Ucapan syukur
· Mengucap syukur untuk penyertaan Tuhan atas keluarga besar STT SAPPI
dalam seluruh program dan kegiatan yang telah berjalan selama ini,
secara khusus untuk program peningkatan mutu administratif dan proses
belajar mengajar yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang
bermutu dan kompeten dibidangnya.
2. Pimpinan dan staf:
· Berdoa agar Tuhan senantiasa dan mengaruniakan hikmat dan kekuatan
kepada para pemimpin dalam mengelola STT SAPPI, sehingga dapat
berkembang dan berkualitas setara dengan standard perguruan tinggi
pada umumnya.
· Berdoa agar para staf memiliki komitmen yang teguh dan
berkonsentrasi penuh pada tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan,
sehingga dengan demikian tujuan untuk mempersiapkan dan memperlengkapi
mahasiswa menjadi hamba Tuhan yang berkarakter Kristus dapat terwujud.
· Berdoa untuk staf pengajar yang sedang menempuh pendidikan untuk
jenjang yang lebih tinggi, agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu
dan kelak dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam
peningkatan mutu pembelajaran di STT SAPPI.
· Berdoa secara khusus untuk Bapak dan Ibu Asrama, agar diberikan
kekuatan dan kesabaran dalam mengelola asrama dan mengembalakan
mahasiswa yang tinggal di asrama, agar mahasiswa juga dapat belajar
memiliki kehidupan seorang hamba Tuhan yang baik.
· Berdoa juga untuk kebutuhan Bapak dan Ibu Asrama yang baru untuk
mengantikan Bapak Ibu Asrama yang lama, agar Tuhan memberikan beban
khusus kepada hamba-hamba-Nya yang terbeban dan terpanggil.
3. Pengurus YMPD:
· Berdoa untuk pengurus YMPD, agar Tuhan memberikan kekuatan dan
kemampuan untuk mengayomi STT SAPPI dan seluruh personel yang ada
didalamnya dan mengarahkan dan mengusahakan kemajuan STT SAPPI sesuai
dengan kehendak Tuhan.
· Berdoa agar pengurus di tengah pekerjaan dan pelayanan yang tidak
mudah ini diberikan Tuhan kekuatan dan kesanggupan dalam pengembangan
pelayanan di STT SAPPI.
4. Mahasiswa Praktik:
· Berdoa untuk mahasiswa praktik 1 tahun yang sedang melayani di
berbagai daerah, antara lain: Bambang Setiawan (GKRI Negeri Siginem
Bengkulu), Darinila Gea (GKKA Kutai, Kalimantan Timur), Delyana L.
Parura (Yayasan Mitra Pelayanan Tuhan Kalimantan Selatan), Febriaman
Gea (BNKP Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara), Prihatin (GKMI
Ngabang, Kalimantan Barat), Wahono (GPPIK Anik, Kalimantan Barat), dan
Yosi Darmawan (GKI Parepare Pos PI Mamuju, Sulawesi Barat) dan Yos
(GTM Mamasa, Sulawesi Barat).
· Berdoa secara khusus bagi Sdri.Prihatin, agar senantiasa
bersukacita, semakin sehat dan kuat, karena selama ini mengalami
penurunan badan yang drastis.
· Berdoa secara khusus untuk Sdr.Wahono yang beberapa waktu lalu
mengalami sakit dan harus beristirahat beberapa lama, supaya
kesehatannya dipulihkan dan tetap kuat.
· Berdoa secara khusus untuk Sdri.Darinila Gea yang baru mengalami
kedukaan, karena ayahnya dipanggil oleh Bapa di surga, agar ia beroleh
penghiburan dan kekuatan dari Tuhan.
· Berdoa secara khusus untuk Sdr.Yos yang baru memasuki ladang
pelayanan pada awal Januari 2013 ini, agar diberi kekuatan dan
ketekunan dalam melayani dan menggembalakan jemaat yang cakupannya
sangat luas di Mamasa Sulawesi Barat.
5. Mahasiswa
· Berdoa untuk seluruh mahasiswa STT SAPPI mulai dari tingkat pertama
sampai tingkat terakhir (mahasiswa yang sedang menulis tugas akhir),
agar terus-menerus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan memiliki
karakter seperti Kristus.
· Berdoa agar seluruh mahasiswa dapat meningkatkan kapasitas dan
kapabilitas dalam segi akademis, keterampilan dan sikap hati melalui
sarana pelayanan dan pembinaan yang terangkai dengan seluruh aktivitas
pembelajaran di kampus STT SAPPI. Dengan demikian seiring dengan
peningkatan mutu STT SAPPI sebagai perguruan tinggi teologi, demikian
juga para mahasiswa mengalami peningkatan dalam segala aspek.
· Berdoa agar para mahasiswa terus menggumuli panggilannya, dan agar
Tuhan mengaruniakan beban pelayanan yang kuat dan rela berkorban untuk
menjangkau jiwa-jiwa di pedesaan bagi Kristus.
6. Keuangan:
· Bersyukur untuk terobosan pendanaan yang Tuhan anugerahkan, sehingga
kebutuhan-kebutuhan STT SAPPI dapat tercukupkan sampai hari ini.
· Berdoa untuk para donatur dan sponsor mahasiswa, agar terus dipakai
oleh Tuhan dalam mengelola dan menyalurkan donasi bagi setiap
mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di STT SAPPI dan STT
lainnya.
· Berdoa untuk kebutuhan akan sponsor/donatur bagi mahasiswa yang
belum mendapatkan dukungan pembiayaan studi mereka di STT SAPPI,
khususnya mahasiswa Tk.1
7. Pelayanan Weekend:
· Berdoa agar hubungan baik terus terjalin antara STT SAPPI dengan
masyarakat sekitar kampus, melalui pelayanan weekend mahasiswa di
beberapa Gereja dan sekolah, serta melalui pemberdayaan masyarakat,
melalui pembinaan dan pelatihan dari staf dan atau mahasiswa STT
SAPPI.
8. Keamanan Lingkungan:
· Berdoa agar seluruh keluarga besar STT SAPPI dapat menjaga kesaksian
hidup dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar kampus.
· Berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan perlindungan bagi keluarga
besar STT SAPPI dari setiap bentuk yang dapat mencelakakan dan
mengancam keamanan.
9. Saudara Seiman:
· Berdoa untuk saudara-saudara seiman di sekitar kampus, yang imannya
lemah, agar mendapat kekuatan dari Tuhan untuk tetap bertahan dari
setiap upaya-upaya pihak tertentu yang mencoba membuat mereka beralih
imannya kepada keyakinan lain dengan iming-iming uang dan harta benda
lainnya.
10. Pemerintah:
· Berdoa secara khusus untuk pemilihan kepala desa Kerta Jaya, desa di
mana kampus STT SAPPI berada, yang akan berlangsung awal tahun 2013,
agar Tuhan menetapkan seorang pemimpin yang dapat mengayomi seluruh
warga masyarakat yang ada di Desa Kerta Jaya.

11. Pembangunann Sarana dan
Prasarana
· Berdoa untuk kelancaran pembangunan beberapa fasilitas di kampus STT
SAPPI, seperti perpustakaan, kelas, asrama dan ruang makan, agar Tuhan
memberkati proses pembangunan ini dan Tuhan mencukupkan segala
kebutuhan yang diperlukan untuk mewujudkan sarana-sarana tersebut.
· Berdoa untuk Panitia Pembangunan dan perancang bangunan serta para
tukang, agar beroleh kekuatan dari Tuhan dan dapat bekerja sama dengan
baik. Amin.

Pelatihan Langham Preaching Program

LPPM STT SAPPI – Himateo bekerja sama dengan Tim Langham Indonesia
telah melaksanakan Langham Preaching Program Tahap I pada Senin-Kamis,
11-14 Februari 2013. Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa tingkat 2
sampai tingkat 4, staf dosen, dan juga beberapa utusan gereja di
sekitar kampus. Tim fasilitator terdiri dari Ibu Beatris Pangala, Ibu
Ratna Harianto, Ibu Didik Kartiarso, Ibu Paw Liang, Pdt. John
Gunthrope, Bpk. Kartiarso, Bpk. Amos Liem, Bpk. Hamdani, Bpk. Armin
Keller, dan dipimpin oleh Ibu Rosemary Aldis dari Wales. Materi yang
disampaikan dalam pelatihan tersebut antara lain: Intisari Pelayanan
Langham, Mengamati dan Memahami Perikop Alkitab, Rangkaian Belajar
(Pribadi, Kelompok, Pleno), Dari Perikop Alkitab ke Khotbah,
Memberitakan Alkitab secara Keseluruhan, Mengevaluasi Khotbah,
Integritas Pengkhotbah, Keyakinan-Keyakinan Dasar, Membangun Jembatan
antara Dunia Alkitab dan Dunia Modern, Membangun Kelompok Pengkhotbah
Alkitabiah, dan Khotbah Eksposisi. Dalam pelatihan tersebut peserta
diajak untuk mempersiapkan khotbah dan mengevaluasi khotbah dengan
pedoman "Sejevan" yang artinya "setia pada teks, jelas, dan relevan".
Tindak lanjut dari pelatihan tahap pertama ini adalah pembentukan 8
kelompok pengkhotbah alkitabiah. Kelompok-kelompok pengkhotbah
alkitabiah ini diharapkan dapat secara rutin mengadakan pertemuan dan
mengasah keterampilan mereka, serta meneruskan keterampilan tersebut
sehingga berguna bagi banyak orang lainnya.

Prinsip mendidik Ala Salomo | DR. Hadi P. Sahardjo

Kita tahu bahwa pendidikan itu berlangsung seumur hidup, sejak bayi
masih dalam kandungan hingga pada saat ajal menjelang. Mungkin banyak
yang tidak menyadari bahwa pendidikan itu sebenarnya merupakan mandat
langsung dari Tuhan. Kita akan membahas soal itu melalui sebagian
tulisan Salomo yang terkait dengan soal pendidikan.

Akar Permasalahan

Hampir semua orang setuju bahwa pendidikan adalah hal yang sangat
penting dalam rangkaian kehidupan manusia. Firman Tuhan jelas
mengajarkan kepada kita betapa pentingnya pendidikan itu. Salah satu
buku dalam Alkitab yang banyak menekankan soal pendidikan adalah Kitab
Amsal, yang berisi banyak sekali nasihat, perintah dan dorongan agar
manusia mencintai hikmat dan didikan. Karena "Takut akan Tuhan adalah
permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan
didikan"(Amsal 1:7). Kemudian dalam Amsal 16 : 16 juga tertulis,
"Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat
pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak". Selanjutnya
dalam Amsal 22:6 menulis demikian "Didiklah orang muda menurut jalan
yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang
dari pada jalan itu." Melalui ayat-ayat ini kita melihat jelas bahwa
Tuhan mengajarkan kepada kita tentang pendidikan sebagai sesuatu yang
sangat bernilai sehingga patut mendapatkan perhatian yang serius.
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, karena hidup itu
sesungguhnya merupakan proses belajar yang berlangsung secara terus
menerus. N. P. Wolterstorff pernah menuliskan bahwa proses belajar
tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, karena dalam kehidupan
ini manusia pasti selalu diperhadapkan dengan perubahan yang terjadi
dan dengan demikian manusia berada dalam tekanan untuk mampu bertahan
dan mencapai kepenuhan hidup di tengah perubahan tersebut. Pendidikan
sangat terkait dengan peningkatan kualitas hidup seseorang, baik
secara lahiriah maupun batiniah. Pendidikan adalah ciptaan Allah
sendiri, bukan inisiatif manusia. Itulah sebabnya maka Alkitab
mengajarkan kepada kita betapa pentingnya pendidikan itu, jauh
melebihi emas dan perak, jauh lebih besar nilainya jika dibandingkan
dengan kekayaan materi.

Apa yang Ditawarkan oleh Gereja dan Kekristenan Masa Kini?

Baru-baru ini Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Blitar mengirim
surat rekomendasi kepada Walikota Blitar agar menutup 5 (lima) sekolah
Katolik dari berbagai tingkatan di kota tersebut. Alasannya karena
enampuluh persen muridnya beragama non Katolik/Kristen. Mereka minta
supaya disediakan guru agama sesuai dengan agama murid (baca: Islam),
tetapi tidak disetujui oleh pihak sekolah, karena sebelumnya mereka
sudah menandatangani persetujuan untuk mengikuti pelajaran agama yang
diajarkan di sekolah tersebut yang berdasarkan iman Katolik. Oleh
karena itu, Walikota Blitar belum berani mengeksekusi rekomendasi
tersebut, karena di samping menutup suatu institusi pendidikan yang
berbadan hukum tetap dan dilindungi oleh Undang-undang, itu juga bukan
wewenangnya. Ditambah dengan pertimbangan dan fakta bahwa
sekolah-sekolah itu telah berjasa bagi peningkatan mutu pendidikan di
kota Blitar dan telah meluluskan ribuan alumni. Pada kenyataannya,
murid yang beragama Islam memang tetap keluar sebagai murid Islam,
karena memang tidak ada program kristenisasi atau katolikisasi di
sekolah tersebut. Tetapi benar, bahwa pengajaran agama di sekolah
tersebut memang disesuaikan dengan misi pendidikan sekolah
Katolik—bahwa pendidikan dan sekolah merupakan wujud kehadiran gereja
di dalam dunia—namun tidak ada pemaksaan bagi para murid untuk
memeluk agama Katolik.
Sebenarnya ada juga di daerah tertentu di mana sekolah-sekolah Kristen
diwajibkan menyediakan guru agama sesuai dengan kepercayaan murid—yang
memang ada ketentuan seperti itu, meskipun sebenarnya juga sangat
dipaksakan. Inilah sebuah pergumulan bagi lembaga-lembaga pendidikan
kristiani. Masalahnya adalah, apakah benar bahwa sekolah Kristen (dan
Katolik) harus menyediakan guru agama untuk murid-murid yang bukan
Kristen? Kalau memang ya, lalu apa bedanya antara sekolah Kristen (dan
Katolik) dengan sekolah-sekolah lainnya? Lalu bagaimana pula kita bisa
melakukan dan mempertanggungjawabkan amanat Tuhan Yesus yang antara
lain adalah untuk "mengajar" segala sesuatu yang diperintahkan kepada
para murid-Nya (Matius 28:20)? Bagaimana pun pendidikan (agama)
Kristen itu penting, dan harus dilakukan. Sekolah Kristen tanpa
pendidikan (agama) Kristen sama saja bohong. Lebih baik label
"Kristen" itu dicopot dan dijadikan saja sekolah umum yang
berorientasi profit.

Belajar Pendidikan dari Salomo

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka melalui kitab Amsal,
khususnya Amsal 22:6 tadi kita akan membahas beberapa prinsip mendasar
soal pendidikan dan mendidik anak:

Pertama: Inti (core)nya adalah mendidik.
Bahasa Ibrani yang dipakai untuk "mendidik" dalam ayat ini adalah
khanak atau chanak yang bisa diterjemahkan sebagai melatih (to
train). Berarti satu usaha yang sungguh-sungguh dan dilakukan dengan
sengaja, agar anak atau murid berubah dari tidak bisa menjadi bisa.
Ada suatu perubahan, dan itu perubahan yang positif. Kata kerja
imperatif (didiklah) yang dipakai di sini berarti bahwa mendidik itu
adalah suatu usaha yang disengaja. Bukan sekedar sebagai suatu
alternatif yang boleh "ya" dan boleh "tidak," melainkan sebagai suatu
keharusan yang bersifat mutlak. Jadi tidak ada alasan bagi orangtua
atau pendidik untuk tidak mendidik anak atau muridnya.

Kedua: Subjek didikan
Dalam Amsal 22 dikatakan bahwa yang harus dididik adalah "orang muda"
yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani na'ar atau bisa diterjemahkan
dengan child atau youth. Istilah ini tepat sekali. Bukan berarti bahwa
anak-anak atau orang dewasa tidak perlu dididik. Karena prinsip
pendidikan adalah berlaku seumur hidup, sejak lahir (bahkan pranatal)
hingga dewasa-tua, sebelum meninggal. Tetapi mengapa Alkitab
menekankan pada "orang muda"? Karena orang muda, berada pada
persimpangan, antara anak-anak dan orang dewasa. Masih berada pada
masa pertumbuhan, pencarian identitas diri. Masa yang rentan terhadap
berbagai pengaruh negatif. David Kinnaman dalam bukunya You Lost Me
mengatakan bahwa banyak orang muda berusia 18-29 tahun yang
meninggalkan gereja, bahkan tidak mau percaya kepada Tuhan. Mengapa?
Karena mereka kurang mendapatkan "didikan" untuk takut akan Tuhan.
Mungkin pula mereka ini masih terlalu terobsesi pada soal idealisme.
Pengetahuan dan masa depan lebih penting daripada "takut akan Tuhan."
Padahal seharusnya takut Tuhan terlebih dahulu baru kemudian
pengetahuan akan diperolehnya (Amsal 1:7). Karena itu masa muda adalah
masa yang paling menentukan.

Ketiga: Materi pembelajaran
Apakah materi pembelajarannya? Materinya adalah "jalan yang patut
baginya" (Ing.: the way he should go): Apakah jalan yang patut
baginya, atau the way he should go itu? Tidak lain adalah
pengajaran-pengajaran yang berhubungan dengan soal moral, etika, budi
pekerti dan iman kepada Tuhan melalui firman-Nya. Tepat seperti yang
dikatakan oleh Rasul Paulus yang terangkum dalam satu kalimat,
"didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Efesus 6:4). Jadi
pendidikan yang benar haruslah yang berhubungan dengan soal hidup dan
kehidupan; dan itu dilakukan dengan cara "mendidik anak-anak dalam
ajaran dan nasihat Tuhan". Oleh karena itu, hal ini sangat tergantung
dari sejauh mana orang tua atau guru mendidik anak dalam Tuhan, maka
sejauh itu pula anaknya akan hidup di dalam Tuhan.

Keempat: Alat (tools) pembelajaran.
Pada ayat-ayat tersebut memang tidak secara eksplisit disebutkan
tentang alat pendidikan, dalam hal ini yang penulis maksudkan adalah
kurikulum. Dalam pendidikan, kurikulum bisa berfungsi sebagai goal,
tetapi sekaligus juga bisa berfungsi sebagai tool. Tergantung dari
mana kita memandang dan memaknainya. Sebagaimana kita ketahui bahwa
penyampaian materi pembelajaran ini bisa dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Secara terstruktur maupun secara implisit.
Penyampaian secara langsung dan terstruktur (khususnya yang dilakukan
di sekolah maupun gereja—misalnya katekisasi) itulah yang di dalam
dunia pendidikan disebut dengan Kurikulum Aktual (Actual Curriculum)
bisa juga disebut sebagai Kurikulum yang Eksplisit (Expicit
Curriculum); merupakan kurikulum yang telah terdokumentasikan dalam
bentuk silabus, dokumen kebijakan sekolah (bisa juga di gereja), atau
proyek kurikulum. Di sini terdapat interaksi langsung yang diciptakan
oleh seorang guru (pendidik) terhadap murid (peserta didik). Pendidik
bisa mengajarkan mata pelajaran tertentu dengan tahapan-tahapan
tertentu dengan tujuan (goal) yang telah ditetapkan oleh institusi.
Termasuk di dalamnya adalah pendidikan moral atau budi pekerti dan
soal keagamaan. Oleh karena itu, gereja-gereja yang juga
menyelenggarakan program pendidikan keagamaan secara berkesinambungan
dan terstruktur seperti halnya katekisasi, dan program-program
pembinaan lainnya, seharusnya juga mengikuti kaidah-kaidah tersebut.
Tetapi pada praktiknya, ternyata pendidikan yang dilakukan secara
tidak langsung seringkali justru memiliki pengaruh yang secara
diam-diam, bertahap, perlahan tapi pasti—bisa sangat berpengaruh
terhadap kehidupan anak. Dalam dunia pendidikan kita mengenalnya
dengan sebutan Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) yang juga
sering disebut sebagai Kurikulum Implisit (Implicit Curriculum).
Disebut demikian, karena ini merupakan kurikulum tersembunyi yang
berhubungan dengan hasil yang diperoleh seorang anak melalui interaksi
dengan sesama, guru atau orang tua dalam pengalaman kehidupan mereka
sehari-hari. Apa yang diamati, didengar, dirasakan, perlakuan yang
diterimanya dalam kehidupan sehari-hari, itulah yang akan
memengaruhinya. Artinya, jika orang tua tidak bisa melakukan apa yang
diucapkan, lebih baik jangan mengatakan hal itu kepada anaknya.
Keteladanan itu penting (1Korintus 11:1). Ingat pepatah: "guru kencing
berdiri, murid kencing berlari?" itulah hidden curriculum.

Kelima: Hasil yang dicapai.
Hasil atau perolehan apakah akan dicapai? Ayat ini mengatakan dengan
sangat jelas. "Tidak akan menyimpang" atau "tidak akan berbalik" (KJV:
he will not depart from it atau NIV: he will not turn from it). Ini
adalah istilah yang sangat khas dalam bahasa Alkitab, yang menunjukkan
relasi orang percaya dengan Tuhan. Ini tidak berbicara soal kekinian,
tetapi soal kehidupan yang akan datang, berbicara tentang keakanan dan
kekekalan. Eternity is more than prosperity.
Apa yang diuraikan di atas sangat sejalan dengan prinsip kurikulum
yang harus bisa menjawab empat pertanyaan mendasar yaitu: (1)
Kemanakah peserta didik itu hendak diarahkan? (2) Pengalaman belajar
apakah yang akan diberikan kepada peserta didik? (3) Bagaimanakah
mengorganisasikan pengalaman belajar itu? (4) Bagaimana kita bisa
mengetahui bahwa melalui strategi dan materi pembelajaran itu, peserta
didik telah mencapai tujuan yang diharapkan?
Oleh karena itu, menjadi semakin jelas, bahwa pendidikan Kristen
sebagai suatu institusi harus lebih memusatkan perhatian pada
pembentukan karakter dan moral anak didik bagi transformasi sosial
lebih dari "sekedar" menciptakan manusia yang cerdas. Sebaliknya,
untuk menjadikan seorang anak agar memiliki perilaku yang benar, hidup
keagamaan yang baik, sungguh-sungguh memiliki hidup beriman kepada
Tuhan Yesus, peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi sangat
penting. Akhirnya perlu diingat, bahwa tugas pendidikan itu
pertama-tama ada dalam keluarga, bukan di sekolah atau gereja. "Dan
kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan"
(Efesus 6:4).

Pendidikan Untuk Membangun Karakter Bangsa | Yanti, S.IP, M.Sc

Latar Belakang
Bulan Oktober 2012 lalu saya berkesempatan menghadiri pertemuan
Konsultasi Nasional Gereja dan Pendidikan Kristen di Indonesia, yang
diselenggarakan di Batam, Kepulauan Riau. Dalam rangkaian acara
tersebut, salah seorang pembicara mengangkat topik mengenai merosotnya
moral para pelajar Indonesia yang ditandai dengan merebak kembalinya
kasus tawuran pelajar dan mahasiswa di beberapa daerah di Indonesia,
sepanjang 2012. Beberapa kasus tersebut antara lain: tawuran di SMK
Bekasi pada tanggal 18 April 2012, bentrokan pelajar SMAN 70 dan SMAN
6 di Bulungan, Jakarta Selatan pada tanggal 24 September 2012 dan
beberapa kasus serupa yang terjadi di sekitar daerah Tangerang dan
Depok. Menurut data Polda Metro Jaya, selama bulan Januari-September
2012 setidaknya ada 9 (sembilan) kasus tawuran pelajar di seluruh
Jakarta (empat kasus di Jakarta Selatan, dua kasus di Jakarta Timur,
satu kasus masing-masing di Jakarta Pusat, Depok dan Bekasi). Temuan
lain yang cukup mencengangkan adalah data dari wilayah Polda Metro
Jaya untuk kasus tersebut selama tiga tahun terakhir, 2010-2012: Tahun
2010 ada 128 kasus kawuran pelajar/mahasiswa, tahun 2011 ada 339 kasus
tawuran pelajar/mahasiswa menelan korban 89 orang, tahun 2012 ada 139
kasus tawuran pelajar/mahasiswa dengan korban 12 orang (Data hingga
Juni 2012 (diambil dari Kabar Siang, tvOne, Kamis, 27 September 2012
pk. 12.44)).

Lonjakan tajam kasus tawuran terjadi selama 2010-2011, lebih dari 330
kasus tawuran terjadi selama 2011, angka ini tentunya meningkat lebih
dari 2 kali lipat jumlah kasus di 2010. Dampak paling fatal dalam
rentetan peristiwa ini adalah timbulnya korban jiwa dari kalangan
pelajar yang tidak sedikit jumlahnya. Sang pembicara pertemuan di
Batam kemudian melihat bahwa fenomena ini merupakan imbas dari
gagalnya pelajaran agama di sekolah. Secara tegas dia menyatakan bahwa
lebih baik pelajaran agama diganti dengan pelajaran budi pekerti saja.
Alasannya karena pelajaran budi pekerti dianggap lebih mampu
memperlengkapi nilai-nilai kemanusiaan yang akan mencegah pelajar
untuk melakukan perbuatan brutal seperti tawuran tadi. Pada akhir
penekanannya, pembicara juga menegaskan mengenai sikap dan perilaku
dari para pendidik yang dianggap menjadi faktor yang sangat menentukan
dalam pembentukan karakter siswa dalam pendidikan di sekolah.

Lebih lanjut, banyak pakar dan pemerhati kaum muda berusaha mencari
alasan yang melatarbelakangi peristiwa tawuran, di antaranya budayawan
Muhammad Sobari yang berpendapat bahwa tawuran antar pelajar terjadi
karena tidak adanya wadah untuk menyalurkan kreativitas di sekolah.
Jenjang usia pelajar berada di titik kritis yang penuh dengan
pergolakan yang membuat mereka memiliki tingkat agresivitas yang
tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan penyaluran yang tepat dan benar.
Selain itu kasus kenakalan remaja seperti ini perlu ditangani oleh
orang-orang yang prihatin dan peduli. Pemerintah sendiri, melalui
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumilar,
melihat fenomena ini sebagai absennya penegakan hukum di kalangan
pelajar. Solusi yang kemudian ditawarkan adalah perlunya law
enforcement (tindakan penegakan hukum) yang tegas dan jelas untuk
menyatakan bahwa peraturan itu ada dan berkuasa, di mana para peserta
didik harus tunduk di bawahnya. Namun, beliau juga menambahkan perlu
adanya keteladanan dalam penegakan hukum tadi, yang dimulai dari
orangtua dan guru.

Pendidikan dan Karakter
Sangat menarik bahwa dari ketiga tokoh tersebut, setidaknya ada sebuah
benang merah yang saling berhubungan. Masing-masing melihat bahwa
dalam menangani masalah tawuran pelajar diperlukan adanya sosok
pendidik/pembimbing yang mampu menjadi acuan dan contoh dalam hal
perilaku dan sikap. Sosok ini juga memiliki kepedulian dan bisa
menjadi teladan untuk diikuti. Jelasnya, dibutuhkan sosok yang
berkarakter unggul.

Istilah karakter bukanlah sebuah istilah yang asing bagi kita. Kata
ini sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari hingga kita
mungkin tidak lagi berpikir apa sebenarnya makna dari kata tersebut.
Lalu apa yang dimaksud dengan karakter? Kamus Encarta memberikan
definisi karakter sebagai kualitas yang menjadi ciri khas seseorang,
yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Kualitas tersebut lebih
bersifat positif dan berkaitan dengan reputasi/nama baik seseorang.
Secara sederhana, kita bisa ambil contoh dari karakter orang Jawa
yang secara umum sabar, lembut dan santun, yang berbeda dengan
karakter orang Jepang yang pekerja keras, ambisius dan pantang
menyerah. Karakter ini biasanya menjadi ciri khas identik yang
menandai suatu kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan atau yang
kita sebut sebagai suatu bangsa, yang kemudian melahirkan apa yang
disebut dengan peradaban. Sejalan dengan pengertian tersebut,
peradaban manusia akan berubah dan berkembang seiring dengan karakter
manusianya yang diperbaharui, dalam artian (seharusnya) berubah
menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kembali ke diskusi mula-mula,
bukankah sosok teladan yang sempat disinggung di paragraf awal adalah
sosok yang mengikuti ciri-ciri seperti ini? Sosok dalam masyarakat
yang memiliki karakter unggul, dalam artian sosok yang bisa dijadikan
acuan, contoh dalam perilaku dan sikap, serta memiliki kepedulian dan
mampu menjadi teladan.

Lalu bagaimana kita menghubungkan karakter dengan masalah pendidikan?
Haidar Bagir memaparkan dengan begitu jelas dan sederhana dalam
artikelnya 'Pendidikan yang Memanusiakan' di rubrik Kolom, Majalah
Tempo, Edisi 17-23 Desember 2012. "Apa tujuan Pendidikan? Kalau mau
ringkas, memanusiakan manusia. Dengan kata lain, pendidikan adalah
suatu kegiatan untuk mengaktualisasikan potensi manusia sehingga
benar-benar menjadi manusia sejati, yakni mengaktualkan berbagai
potensinya untuk dapat benar-benar menjadi manusia yang memiliki
kehidupan yang penuh makna, bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri."
Sementara itu, menurut cara pandang Kristen, tujuan pendidikan adalah
memfasilitasi proses manusia menuju kedewasaan menurut gambar dan rupa
Allah supaya dengan demikian akan terjadi pertumbuhan menuju
kedewasaan yang sejati. Dengan demikian, manusia tersebut akan
dimampukan untuk memenuhi mandat penciptaan yang telah Allah berikan
di dalam dirinya sejak awal, dengan menjalankannya dalam ketaatan
kepada Firman Tuhan" (diambil dari 'The Christian Philosophy of
Education', oleh Stephen C. Perks, dipaparkan dalam 'The Case for
Classical Christian Education', oleh Douglas Wilson, tahun 2003).

Kedua definisi tujuan pendidikan di atas memiliki kesamaan dan
perbedaan. Terlebih dahulu kita diskusikan persamaannya. Bagir
menyatakan tentang aktualisasi potensi manusia menuju manusia sejati
yang juga ditekankan Perks bahwa pendidikan memungkinkan pertumbuhan
menuju kedewasaan sejati. Poin selanjutnya, kedua pihak menekankan
hasil yang bisa diraih apabila poin pertama tadi tercapai, Bagir
menyebutkan akan dimilikinya kehidupan yang penuh makna, sementara
Perks menekankan kepada kemampuan yang dimiliki manusia untuk memenuhi
mandat penciptaannya, di sini bisa kita lihat bahwa keduanya
menggarisbawahi adanya target hasil akhir yang ingin dicapai melalui
pendidikan. Yang paling esensial mungkin adalah poin terakhir yang
merupakan perbedaan yang cukup mencolok, Bagir menegaskan bahwa
kebermaknaan yang dicapai manusia, yang menjadi hasil pendidikan
tersebut harus berdampak baik bagi diri sendiri maupun orang lain,
sedangkan Perks secara tegas mengatakan kemampuan untuk menjalankan
mandat penciptaan tersebut berasal dari Allah dan harus dijalankan
dengan cara Allah (disertai adanya ketaatan kepada Firman Tuhan). Hal
ini tentunya kemudian mengarahkan kita kepada perumusan tujuan
pamungkas dari pendidikan yang bisa menjadi sangat berbeda, apakah
pendidikan ditujukan untuk memaksimalisasi manusia dan kontribusinya
baik bagi diri sendiri dan dunia saja (Bagir) ataukah pendidikan
melayani suatu tujuan akhir yang bersifat melebihi perkara dunia atau
yang kelihatan, yaitu untuk memenuhi atau menunaikan rencana/panggilan
dari 'pihak' yang lebih besar dari manusia ataupun dunia yang
kelihatan? (Perks).

Hal yang perlu digarisbawahi dan saya rasa sangat krusial adalah poin
awal yang disampaikan Bagir tentang tujuan pendidikan yang adalah
untuk memanusiakan manusia. Pertanyaan yang kemudian timbul, manusia
seperti apa yang ingin dihasilkan? Manusia yang memiliki ciri,
kriteria yang bagaimana? Tentunya di titik ini setidaknya kita bisa
mengatakan dengan pasti, bahwa manusia yang yang ingin dihasilkan
adalah mereka yang karakternya berkebalikan/sangat berlainan dari
karakter yang dimiliki oleh pelajar dan mahasiswa yang terlibat
tawuran (lihat Latar Belakang).

Fenomena yang cukup menarik terjadi di Ibukota belakangan ini, ketika
pada tanggal 15 Oktober 2012 lalu, Jakarta melantik pasangan Joko
Widodo (Jokowi) dan Basuki Purnama Tjahaja (Ahok) sebagai Gubernur dan
Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru. Kedua tokoh ini dipercaya akan
membawa perubahan berarti bagi Jakarta ke arah yang tentunya lebih
baik. Sebetulnya jika kita cermati lebih lanjut, apakah yang menjadi
kelebihan kedua tokoh ini, apakah gelar akademisnya, prestasi
intelektualnya ataukah ada faktor lain? Tim ini baru saja melalui
periode 100 hari kepemimpinan, setidaknya keduanya sudah diberi
julukan yang erat menempel pada mereka, Jokowi dengan gaya
blusukan-nya dan Ahok dengan gaya gamblang, tegas, langsung ke sasaran
dan apa adanya.

Banyak cerita-cerita menyentuh hati dan menyegarkan telinga ketika
setiap hari media televisi dan cetak memberitakan mengenai tindakan,
perubahan dan terobosan-terobosan yang mereka lancarkan. Seluruh mata
dan telinga penduduk Indonesia seakan tertuju kepada mereka, melihat
dan mendengar serta meneliti setiap tindak tanduk mereka. Sangat
mengesankan, cerita-cerita positif ternyata mengalir, dilontarkan oleh
berbagai kalangan dan pihak yang terlibat dalam kegiatan dan
perjuangan mereka.

Secara khusus seorang reporter MetroTV menyaksikan secara langsung
bagaimana mereka berjuang menyelesaikan masalah banjir Jakarta, dari
kesaksiannya sangat terpancar sisi konsistensi dan ketulusan kedua
tokoh ini dalam memikirkan dan menyuarakan apa yang mereka anggap
benar, memperjuangkannya dan melakukannya. Jokowi dilihat sebagai
sosok yang sangat membumi, penuh kasih, peduli dan apa adanya,
sementara Ahok dilihat sebagai sosok yang terbuka, transparan,
menerima kritik dan masukan serta besar hati. Sosok karakter inilah
yang dianggap sebagai faktor lain tersebut. Sejauh ini masyarakat bisa
menilai bahwa karakter yang dimiliki Jokowi dan Ahok merupakan
karakter pemimpin yang sungguh-sungguh mau memperjuangkan
kesejahteraan rakyat, yang pro rakyat.

Penutup
Ada sebuah frase kata-kata bijak yang saya pikir sangat baik untuk
menyegarkan kembali ingatan ataupun membukakan cara pandang kita akan
pentingnya karakter:
Hati-hati dengan pikiranmu, karena apa yang kamu pikirkan akan menjadi
perkataanmu …
Hati-hati dengan perkataanmu, karena apa yang kamu katakan akan
menjadi tindakanmu …
Hati-hati dengan tindakanmu, karena apa yang kamu lakukan akan menjadi
kebiasaanmu …
Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena dari kebiasaanmu akan terbangun
menjadi karaktermu …
Hati-hati dengan karaktermu, karena itu yang akan menentukan masa
depan dan tujuan hidupmu …
(anonim)

Penjabaran di atas membawa kita untuk dapat menarik pelajaran bahwa
karakter dibangun dari hal-hal kecil, hal-hal yang kita lakukan dan
hidupi setiap hari. Berpikir, berkata-kata, bertindak, maka jadilah
karakter. Jadi berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirkan, katakan
dan lakukan karena hal tersebut yang akan membangun karakter kita.
Berhati-hatilah dengan cara seperti apa kita membangun karakter kita,
karena itu yang akan mengarahkan hidup kita dan menentukan bagaimana
akhir kehidupan kita. Hai, para pendidik Kristen, sudahkah Anda sadar
akan hal ini? Karakter seperti apa yang ingin kita bangun untuk
anak-anak didik kita? Karakter seperti apa yang ingin kita bangun bagi
penerus bangsa kita? Sudahkah Anda pikirkan dan temukan? Maka
jadikanlah karakter tersebut terlebih dahulu di dalam diri Anda,
sebelum Anda mengajarkannya kepada anak-anak didik Anda.

Selamat berjuang! Tuhan memberkati.